AKSARATIME.COM — Harga cabai rawit merah di sejumlah daerah melonjak hingga Rp124.400 per kilogram, atau 23,72 persen di atas periode sebelumnya dan jauh melampaui Harga Acuan Pemerintah Rp57.000 per kg. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut kemarau panjang yang menekan produksi sebagai salah satu penyebab utama kenaikan tersebut.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan cuaca kering berkepanjangan memangkas hasil panen cabai di sentra produksi, sehingga pasokan ke pasar berkurang. Pernyataan itu disampaikan Budi usai Rapat Koordinasi Terbatas di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (3/10/2026).
"Memang cabai rawit, kemudian cabai keriting, cabai rawit merah sedikit mengalami kenaikan. Itu karena memang faktor cuaca," kata Budi saat ditemui wartawan.
Harga di Pasar Menembus HAP
Data harga pangan hingga awal November 2026 mencatat rata-rata cabai rawit merah sempat menyentuh Rp124.400 per kg, naik 23,72 persen. Angka itu lebih dari dua kali Harga Acuan Pemerintah yang dipatok Rp57.000 per kg.
Cabai merah keriting bergerak di kisaran Rp101.900 hingga Rp105.600 per kg, meningkat sekitar 21,17 persen. Cabai merah besar tercatat Rp91.250 per kg, sementara cabai rawit hijau justru turun tipis ke Rp52.500 per kg.
Distribusi Belum Merata Antarwilayah
Budi menegaskan harga pangan secara nasional relatif stabil. Persoalannya, pengiriman pasokan dari daerah surplus ke wilayah defisit belum lancar, sehingga harga di sejumlah daerah lebih tinggi dibandingkan wilayah lain.
Pemerintah menempuh jalur distribusi untuk menutup selisih itu. Budi mencontohkan pengiriman tujuh ton cabai dari Jawa Timur ke Halmahera karena Jawa Timur sedang surplus.
"Kemarin kita ngirim (cabai) ke Halmahera ya, kan kita ngirim 7 ton dari Jawa Timur, karena Jawa Timur surplus cabai. Jadi kerja sama kita dengan Bapanas, kerja sama dengan BI dan pemerintah daerah," ujarnya.
Telur Ayam Ikut Diawasi
Selain cabai, pemerintah memantau distribusi telur ayam ras. Menurut Budi, pasokan nasional masih surplus, tetapi kendala pengiriman membuat harga di sebagian daerah relatif tinggi.
"Apalagi telur ini sekarang kan harga rerata nasional itu Rp26.400 per kg. Harga acuan kan Rp30.000. Artinya, sementara ada daerah tertentu yang distribusinya agak susah itu naik," kata Budi.
Pemerintah akan mengarahkan pasokan ke daerah yang harganya lebih tinggi agar harga kembali stabil.
Cabai dan Tomat Pendorong Inflasi Oktober
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Oktober 2026 sebesar 0,22 persen secara bulanan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi 0,51 persen dengan andil 0,15 persen terhadap inflasi umum.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut cabai merah sebagai komoditas dominan dengan andil 0,13 persen. Cabai rawit menyusul dengan andil 0,05 persen, disusul tomat 0,04 persen.
"Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini terutama cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,13 persen," kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/11).
Harga Mulai Melandai di Awal November
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional Bank Indonesia per 3 November 2026 menunjukkan harga cabai rawit merah turun 9,47 persen menjadi Rp90.850 per kg dibandingkan hari sebelumnya. Cabai merah keriting berada di Rp85.100 per kg, cabai rawit hijau Rp74.750 per kg atau turun 6,21 persen, dan cabai merah besar Rp67.400 per kg atau turun 7,35 persen.
Penurunan harian itu belum cukup menutup selisih terhadap harga acuan. Perbaikan arus distribusi antarwilayah menjadi kunci untuk menekan harga di daerah yang masih mahal.