Monty Tiwa Akui Sulit Cari Lokasi Bakar untuk Film GJLS: Berapi-Api

Monty Tiwa Akui Sulit Cari Lokasi Bakar untuk Film GJLS: Berapi-Api
Sutradara Monty Tiwa mengungkap tantangan mencari lokasi yang diizinkan untuk adegan pembakaran dalam film GJLS: Berapi-Api.

AKSARATIME.COM — Sutradara Monty Tiwa mengungkap tantangan di balik adegan kebakaran film GJLS: Berapi-Api, yang 50 persen apinya sungguhan dan 50 persen sisanya CGI. Kesulitan utama muncul saat mencari lokasi yang pemiliknya mengizinkan bangunan mereka dibakar. Film kedua trio Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir itu mengangkat profesi petugas pemadam kebakaran.

Monty Tiwa mengungkap proses panjang di balik adegan kebakaran dalam film GJLS: Berapi-Api. Sebagai sutradara, ia ingin para pemain benar-benar merasakan sensasi ketakutan yang nyata saat berhadapan dengan api.

Keinginan itu berbenturan dengan kenyataan di lapangan. Tidak semua pemilik lokasi bersedia bangunannya dilibatkan dalam adegan pembakaran.

Lokasi yang Mau Dibakar Tak Selalu Cocok Secara Artistik

Monty menuturkan tim produksi sempat mendatangi sejumlah tempat untuk syuting. Ada lokasi yang pemiliknya keberatan jika bangunannya dibakar.

Masalah lain muncul ketika izin akhirnya didapat. Sebagian lokasi dinilai tidak memenuhi kebutuhan visual film.

"Ada beberapa tempat yang ternyata pemiliknya keberatan untuk kita bakar. Tapi beberapa tempat yang bisa dibakar, secara artistik enggak cocok. Jadi susah banget," kata Monty dalam konferensi pers di kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Gudang Tua PFN Jadi Lokasi Pilihan

Pilihan akhirnya jatuh pada sebuah gudang tua milik PFN yang diizinkan untuk dibakar. Namun, kondisi bangunan yang sudah terlalu kumuh membuat hasilnya kurang sesuai ekspektasi artistik.

Tim kemudian mengambil jalan tengah. Sebagian adegan api tetap menggunakan pembakaran sungguhan, sisanya ditambahkan lewat CGI.

"Misalnya 50 persen api yang ada di adegan itu real, 50 persen sisanya kita tambah dengan CGI," ujar Monty.

Alasan Angkat Profesi Damkar

Produser Indra Yudhistira menjelaskan alasan di balik pemilihan profesi pemadam kebakaran sebagai inti cerita. Menurutnya, profesi ini jarang disorot layar lebar meski selalu hadir di situasi genting.

"Kita tahu waktu kita pilih damkar, kita tuh merasa pemadam kebakaran adalah satu profesi yang jarang disorot. Tapi dia selalu hadir pada saat kita genting," ungkap Indra.

Film ini disebut sebagai bentuk apresiasi bagi para petugas damkar. Harapannya, cerita yang dibalut komedi itu tetap menghibur sekaligus memberi penghargaan atas kerja mereka.

Film Kedua Trio GJLS

GJLS: Berapi-Api menjadi film kedua trio Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir setelah GJLS: Ibuku Ibu-Ibu yang rilis 2025. Bagi Rigen, proyek ini adalah salah satu mimpi mereka bertiga selama berkarya di industri hiburan.

Film garapan Monty Tiwa itu tetap mengangkat kisah persahabatan yang menyentuh, dengan komedi sebagai bumbu utama. Latar profesi damkar memberi warna berbeda dibanding film pertama mereka.

Bagi penonton Indonesia yang menyukai komedi persahabatan, GJLS: Berapi-Api menawarkan kombinasi aksi kebakaran dan cerita kehangatan antar sahabat. Adegan api yang memadukan pembakaran nyata dan CGI jadi salah satu daya tarik teknis yang bisa dicermati di layar lebar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index