Latihan Militer 12 Negara Eropa Uji Pengerahan Pasukan ke Ukraina

Selasa, 03 November 2026 | 08:05:31 WIB
Latihan militer 12 negara Eropa digelar di Polandia pada 9-22 November 2025.

AKSARATIME.COM — Sebanyak 2.800 personel militer dari 12 negara Eropa akan menggelar latihan bersama di Polandia pada 9-22 November untuk menguji kemampuan pengerahan pasukan multinasional ke Ukraina jika tercapai kesepakatan damai. Latihan bertajuk Exercise Koalicja itu dipimpin Inggris dan Prancis, dengan Turki memimpin misi maritim. Western officials menegaskan pasukan yang dikirim nantinya tidak akan terlibat operasi ofensif maupun misi penjaga perdamaian.

Latihan Exercise Koalicja akan menjadi uji coba bagaimana memindahkan, melindungi, dan memasok pasukan di wilayah Ukraina. Latihan juga menguji komando dan kendali agar tentara dari berbagai negara bisa bekerja sama dalam satu struktur komando.

Sebanyak 2.800 personel akan terlibat di matra darat, laut, dan udara. Kontribusi Inggris mencakup 300 tentara dan sepasang jet tempur Typhoon RAF. Pesawat tempur itu akan mensimulasikan cara memberikan rasa aman kepada pesawat komersial jika ruang udara Ukraina kelak dibuka kembali.

Negara Peserta dan Pembagian Peran

Selain Inggris, personel berasal dari Prancis, Belgia, Estonia, Jerman, Lituania, Belanda, Polandia, Spanyol, Swedia, dan Turki. Turki telah setuju memimpin misi maritim, dengan tujuan akhir membersihkan ranjau dan memungkinkan perdagangan kembali berjalan di Laut Hitam.

Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting menyebut latihan ini menunjukkan bahwa Inggris, Prancis, dan sekutu mereka mempercepat persiapan untuk hari ketika perdamaian tercapai di Ukraina.

"Ini bukan rencana hipotetis, ini pasukan nyata, siap membantu Ukraina begitu pertempuran berhenti," kata Streeting.

Letnan Jenderal Tom Bateman, komandan Inggris untuk Multi National Force Ukraine (MNF-U), mengatakan latihan ini merupakan langkah penting untuk menerjemahkan komitmen politik menjadi kesiapan militer yang kredibel. Menurutnya, pasukan itu adalah kekuatan nyata, mampu, dan siap dikerahkan sebagai komitmen serius dari negara-negara Coalition of the Willing terhadap stabilitas dan keamanan jangka panjang Ukraina.

Batasan Peran Pasukan yang Dirancang

Pejabat Barat menegaskan pasukan yang dikirim ke Ukraina nantinya tidak akan terlibat operasi ofensif, tidak menjalankan misi penjaga perdamaian, dan tidak bertugas memantau gencatan senjata. Pasukan juga tidak akan beroperasi di bawah komando NATO maupun berada di garis depan.

Kehadiran mereka, menurut pejabat, untuk memberikan rasa aman kepada Ukraina dan membantu membangun kembali angkatan bersenjatanya. Amerika Serikat terlibat dalam pembahasan, tetapi tidak berkontribusi pada misi ini.

Pejabat Barat menolak merinci aturan keterlibatan jika pasukan internasional diserang di Ukraina. Mereka hanya menyatakan pasukan itu mampu membela diri.

Oposisi Rusia dan Ketidakpastian Mandat

Rusia telah menyuarakan penolakan terhadap penempatan pasukan asing di Ukraina. Tahun lalu, Presiden Vladimir Putin menyebut pasukan semacam itu sebagai "sasaran sah".

Hingga kini, pejabat Barat belum bisa memastikan bentuk akhir dan komposisi pasukan yang mungkin dikerahkan jika pertempuran berhenti. Pakar militer sebelumnya memperkirakan negara-negara Barat mungkin harus mengirim puluhan ribu tentara untuk menjamin keamanan Ukraina.

Pejabat mengakui komitmen dan kontribusi tiap negara akan bergantung pada situasi penghentian permusuhan dan keputusan politik masing-masing. Peran pelatihan yang bisa diberikan pasukan Barat kepada tentara Ukraina yang sudah berpengalaman tempur juga belum jelas.

Di sisi lain, tentara Ukraina justru sudah sangat diminati untuk melatih pasukan NATO, terutama dalam berbagi keahlian perang drone. Namun di atas semua itu, Rusia belum menunjukkan tanda-tanda ingin mengakhiri perangnya.

Terkini