JAKARTA- Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, memicu kekhawatiran keluarga jemaah umrah di Tanah Air. Banyak yang bertanya: apakah jemaah Indonesia yang sedang beribadah di Tanah Suci aman, dan bagaimana dengan jadwal kepulangan maupun keberangkatan?
Berikut rangkuman fakta terbaru, imbauan pemerintah, dan langkah yang perlu dilakukan jemaah serta keluarganya.
Kronologi Serangan Bandara King Khalid Riyadh
Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) melaporkan adanya serangan yang menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Akibatnya, operasional bandara dihentikan sementara sampai pemeriksaan dan penilaian keselamatan fasilitas selesai dilakukan.
Menurut laporan Bisnis.com, serangan tersebut menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 309 lainnya. Kelompok Houthi asal Yaman disebut berada di balik serangan ini.
Serangan 10 Oktober bukan yang pertama. Dua hari sebelumnya, Kamis 8 Oktober 2026, bandara yang sama juga diserang. GACA kala itu menyebut serangan pertama menargetkan fasilitas bandara, sedangkan serangan kedua menyasar pesawat milik maskapai Saudia. Setelah insiden 8 Oktober, operasional bandara dilaporkan sempat kembali normal.
Rangkaian serangan juga menyasar bandara lain di Arab Saudi. Serangan terhadap dua bandara pada 6 dan 7 Oktober dilaporkan menewaskan tiga orang. Selain itu, koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan sebuah proyektil jatuh di dekat Bandara Internasional King Fahd di Dammam. Houthi mengklaim serangan ini sebagai balasan atas blokade Arab Saudi dan serangan udara ke Bandara Sanaa di Yaman.
Apakah Jemaah Umrah Indonesia Terdampak?
Sejauh ini belum ada laporan jemaah umrah Indonesia yang menjadi korban serangan tersebut.
Perlu dipahami, jemaah umrah asal Indonesia umumnya mendarat dan pulang melalui Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah atau Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz di Madinah, bukan melalui Riyadh. Kota Makkah dan Madinah juga berjarak ratusan kilometer dari Riyadh.
Meski begitu, dampak tidak langsung tetap mungkin terjadi, terutama bagi:
- Jemaah yang memakai rute transit atau penerbangan lanjutan melalui Riyadh.
- Jemaah yang mengambil paket umrah plus wisata ke Riyadh.
- Penerbangan yang jadwal atau rutenya disesuaikan maskapai demi alasan keamanan.
Imbauan Resmi KBRI Riyadh untuk WNI
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh menerbitkan imbauan pada Minggu, 11 Oktober 2026. Isinya antara lain:
- Tingkatkan kewaspadaan, khususnya bagi WNI di wilayah Riyadh.
- Hindari titik rawan, terutama area Bandara Internasional King Khalid dan sekitarnya.
- Batasi perjalanan yang tidak esensial.
- Konfirmasi ulang status penerbangan kepada maskapai sebelum berangkat ke bandara.
- Patuhi arahan otoritas setempat dan pantau informasi hanya dari kanal resmi Pemerintah Arab Saudi dan KBRI Riyadh.
KBRI Riyadh menegaskan layanan kepada WNI tetap berjalan seperti biasa.
Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah, menyatakan Kemlu bersama KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah terus memantau situasi dan siap mengambil langkah pelindungan yang diperlukan bagi WNI di Arab Saudi.
Nomor Darurat yang Bisa Dihubungi
| Layanan | Nomor |
|---|---|
| Hotline KBRI Riyadh | +966 569173990 |
| Layanan darurat Arab Saudi (Riyadh, Makkah, Madinah, Provinsi Timur) | 911 |
Simpan nomor ini di ponsel jemaah dan bagikan ke keluarga di Indonesia.
Belajar dari Penanganan Jemaah Umrah Maret 2026
Pemerintah Indonesia sebenarnya punya pengalaman menangani situasi serupa tahun ini. Saat eskalasi konflik Timur Tengah pada akhir Februari hingga Maret 2026 menyebabkan penutupan ruang udara di sejumlah negara, ada sekitar 58.873 jemaah umrah Indonesia yang tercatat berada di Arab Saudi berdasarkan data SISKOPATUH.
Kala itu, Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah membentuk tiga tim yang bekerja tiga shift dan disebar di tiga titik Bandara King Abdulaziz untuk mendampingi jemaah yang jadwalnya terganggu. Kementerian Haji dan Umrah juga sempat mengimbau calon jemaah menunda keberangkatan sementara waktu. Hasilnya, sebanyak 30.360 jemaah umrah tercatat telah kembali ke Tanah Air pada periode 28 Februari hingga 18 Maret 2026.
Pemerintah saat itu juga mengingatkan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) agar bertanggung jawab penuh atas akomodasi dan tiket kepulangan jemaah sesuai kontrak.
Yang Perlu Dilakukan Jemaah dan Keluarga
Untuk jemaah yang sedang di Arab Saudi:
- Tetap tenang dan ikuti arahan pembimbing atau muthawif dari travel.
- Jangan bepergian ke Riyadh atau area bandara tanpa keperluan mendesak.
- Pastikan paspor, visa, dan tiket pulang selalu aman dan mudah dijangkau.
- Aktifkan ponsel dan simpan nomor hotline KBRI serta kontak petugas travel.
Untuk calon jemaah yang akan berangkat:
- Hubungi PPIU untuk memastikan rute penerbangan, apakah ada transit di Riyadh atau tidak.
- Tanyakan kebijakan travel jika terjadi perubahan jadwal atau pembatalan.
- Pantau informasi resmi dari Kementerian Haji dan Umrah RI sebelum berangkat.
Untuk keluarga di Tanah Air:
- Jaga komunikasi rutin dengan jemaah dan pihak travel.
- Hindari menyebarkan kabar yang belum terverifikasi di media sosial.
- Jika kehilangan kontak dengan jemaah, segera hubungi PPIU, lalu KBRI Riyadh atau KJRI Jeddah.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apakah Makkah dan Madinah aman setelah serangan di Riyadh? Serangan terjadi di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, yang lokasinya jauh dari Makkah dan Madinah. Hingga artikel ini ditulis, belum ada laporan gangguan ibadah di dua kota suci tersebut. Meski demikian, jemaah tetap diminta waspada dan mengikuti arahan otoritas.
Apakah keberangkatan umrah dari Indonesia ditunda? Per 14 Oktober 2026, belum ada pengumuman penundaan umrah secara umum. Calon jemaah disarankan berkoordinasi dengan travel masing-masing dan memantau kanal resmi pemerintah.
Bagaimana jika penerbangan saya melalui Riyadh? Segera konfirmasi status penerbangan ke maskapai sebelum menuju bandara, sesuai imbauan KBRI Riyadh. Minta travel mencarikan rute alternatif melalui Jeddah atau Madinah jika memungkinkan.
Siapa yang bertanggung jawab jika jemaah tertahan? PPIU wajib memenuhi hak jemaah sesuai kontrak, termasuk akomodasi dan tiket pulang. Pemerintah melalui Kemenhaj, KUH Jeddah, dan perwakilan RI di Arab Saudi melakukan pendampingan.
Serangan di Bandara King Khalid Riyadh memang mengkhawatirkan, tetapi jalur utama jemaah umrah Indonesia melalui Jeddah dan Madinah. Kunci utamanya adalah tetap tenang, rutin mengecek status penerbangan, berkoordinasi dengan travel, dan hanya mengandalkan informasi dari kanal resmi KBRI Riyadh, KJRI Jeddah, serta Kementerian Haji dan Umrah RI.