Bandung, aksaratime.com- Ada kalanya sebuah band nggak butuh hype besar buat bikin cerita menarik. Cukup satu kaset pita tua, satu cover yang nyelip di kamar bujangan, dan ingatan soal seorang penggemar. Itulah yang terjadi pada The All Innocent, band grunge asal Bandung yang akrab disapa INNO.
Dalam wawancara dengan aksaratime, vokalis sekaligus gitaris Achill Bismo membeberkan kisah di balik kaset rekaman tahun 1997 yang kini mereka sebut sebagai artefak bersejarah. Kaset itu berisi 15 lagu demo, rekaman pertama INNO yang awalnya bakal disortir untuk album perdana.
"Itu satu-satunya kaset yang direkam dengan proper pada saat itu, dan memang cuma satu-satunya," kata Achill.
Berawal dari Cover yang Nyelip
Perjalanan kaset ini cukup berliku. Karena cuma ada satu kopi, kaset itu berpindah tangan dari satu personel ke personel lain secara bergiliran. Ujung-ujungnya, kaset jatuh ke tangan Buday, seorang penggemar yang punya tape deck dua slot untuk menggandakan isinya.
Sialnya, tape milik Buday rusak. Kaset nggak pernah berhasil dikopi.
Bertahun-tahun kemudian, Akoey, drummer INNO, pulang ke Bandung setelah sempat pindah kota. Di kamar bujangannya dulu, ia menemukan cover kaset tersebut. Dari situlah ingatan soal Buday dan isi kaset itu kembali muncul.
Achill sendiri sempat kehilangan jejak kaset karena pindah rumah. Rumah lamanya dulu memang nggak pernah sepi. Tempat itu jadi tongkrongan, sering dimasuki banyak orang, bahkan jadi rumah singgah bagi mereka yang nggak punya tempat tinggal atau diusir keluarganya. "Barang sering hilang di sana," ujarnya.
Setelah dicari, kaset akhirnya ketemu. Kebetulan saat itu Achill sudah punya home recording, sehingga materi tersebut sempat direkam ulang dengan sound yang dibuat semirip mungkin dengan nuansa 1997. Proses restorasi ia kerjakan sendiri, dan kini tinggal masuk tahap mixing dan mastering.
Satu Shift di Cijerah, Jari Berdarah
Rekaman itu dibuat di Cijerah pada 1997. Achill lupa tanggal dan bulan pastinya, tapi ingat betul suasananya. Waktu itu, studio rekaman yang proper buat band-band indie memang ada di Cijerah, lumayan jauh dari basecamp INNO.
Dana yang mepet bikin mereka cuma sanggup menyewa studio satu shift. Dalam satu shift itu, lahirlah 15 lagu.
"Kami semua agak tegang karena baru pertama kali rekaman," kenang Achill.
Persiapannya juga nggak gampang. Hampir tiap hari mereka briefing dan latihan, padahal cari studio latihan saja susah. Di masa itu, band grunge seperti di-blacklist hampir di semua studio di Bandung. Saking semangatnya, jari Achill yang baru belajar main gitar sering berdarah tanpa ia sadari.
Formasi yang terlibat dalam rekaman ini adalah formasi ketiga INNO: Akoey (drum), Heri Corro (bass), Dani Bekeh alias Palm Botol (gitar 2), dan Achill (gitar, vokal). Dari 15 lagu itu, hanya empat sampai lima yang sering dibawakan di panggung. Sisanya cuma diketahui para personel.
Berikut 15 lagu yang terekam dalam kaset demo The All Innocent tahun 1997:
- Closed Mind
- Wake
- Make Hate
- Black Soul
- Battle Field
- Where
- Dead Brain
- Little Lie
- Gabrielle
- Proud
- Unspecial
- Suicide
- Not Right
- Fuck It
- When a Son Need a Gun
Racun Nirvana dan Sepultura
Secara musik, INNO era 1997 adalah anak-anak yang lagi kena racun grunge, sama seperti hampir semua orang di Bandung saat itu. Nirvana dan Sepultura jadi kiblat. Achill sendiri juga sering nongkrong bareng anak-anak dari luar skena grunge.
Sound-nya mentah. Achill masih mengandalkan power chord dengan ritmik yang liar, dan efek yang mereka kenal cuma efek dirty alias sound kasar.
Waktu mendengar ulang rekaman itu, Achill mengaku takjub. "Rasanya luar biasa, sangat liar dan mencerminkan kepribadian kami pada saat itu," katanya. Mereka bahkan mempelajari lagi pola-pola di rekaman tersebut dan merasa materinya memang gila untuk zamannya, bahkan mungkin sampai sekarang.
Di era itu, INNO sering sepanggung dengan NAON, Rentenir, Berandal, dan Harakiri. Beberapa personelnya juga dekat dengan Naked Truth, Dislaw, Turtle Jr, Monster, Rabies, sampai Gabba Gabba.
Bagian dari 9 EP
Kaset 1997 ini bukan rilisan tunggal. INNO memang berencana bikin box collection berisi perjalanan musik mereka dari waktu ke waktu. Totalnya ada 9 EP yang merangkum karya sejak 1997 hingga 2019, masing-masing berisi 6 lagu. Achill berharap semuanya bisa dirilis pada 2027.
"Setiap album mewakili perkembangan musik INNO dengan segala eksperimennya," jelas Achill.
Semua personel formasi 1997 masih hidup hingga kini. Namun saat rencana rilis dulu, Dani Bekeh sempat pindah pulau. Kini, The All Innocent tinggal menyisakan dua orang: Achill dan Olan.
Bagi Achill, rekaman ini adalah pernyataan sikap. "Meski tidak banyak dirilis, kami selama ini berkarya dan berkembang dalam hening," ujarnya.
Harapannya sederhana tapi besar. Ia ingin lagu-lagu ini didengar dan diterima banyak orang, bukan cuma teman dekat yang sudah tahu. Kalau bisa, sampai dilirik di level dunia.
"Biar jadi perwakilan musisi Indonesia, karena Indonesia juga negara yang musisinya nggak bisa diremehkan," tutupnya sambil tertawa.